Dengan jalanan yang kosong, dan kemampuan mengendara mobil Jona macam pembalap F1, tak heran kita sampai dengan cepat ke wilayah Rancapurut. Kita harus cepat kembali ke markas, Dani sudah terlihat ingin mati saja dengan darah yang tidak berhenti mengalir dari tangannya. Perban di tangannya sudah basah berwarna merah. Dani hanya menangis, mengerang.. kulihat Luki memeriksa denyut nadi Dani. Wajah Luki terlihat sangat tenang sekali sambil sesekali tersenyum pada Dani.

Dari kejauhan Jona sudah membunyikan klakson mobil agar para penjaga segera membuka gerbang Rancapurut. Sebuah gerbang masuk ke wilayah kami, tempat tinggal kami.. bangsa manusia.

Ya, kami adalah manusia yang masih hidup dan bertahan di Sumedang. Wilayah Sumedang dulunya merupakan sebuah kabupaten bagian dari provinsi Jawa Barat sebelum tragedi ‘Monas Merah’ terjadi. Sekarang tak ada lagi yang namanya provinsi ataupun kabupaten, karena sebuah kedaulatan yang disebut negara pun memang sudah tidak ada. Yang ada hanya kelompok-kelompok kecil manusia yang tersebar diseluruh wilayah Indonesia. Negeri yang kami cintai ini telah berubah menjadi wilayah antah berantah tempat kami diburu oleh makhluk-makhluk sialan itu.

“Mana yang lain?!?” teriak petugas gerbang.

“Masih dibelakang, mungkin sebentar lagi menyusul!”jawab Jona.

Kami pun segera meninggalkan para penjaga untuk langsung pergi ke markas.

“Bertahanlah, Dan! Sebentar lagi kita sampai!”kata Luki mencoba kembali menenangkan Dani.

“Siapkan tempat operasi, ada teman kami yang terluka parah di sini. Kami sedang menuju ke rumah sakit!” perintah Kapten Rida ke petugas rumah sakit melalui telepon radio.

“Siap pak!” jawab seseorang di sana.

Jarak dari gerbang rancapurut ke barak pasti terasa sangat lama sekali bagi Dani..

Petugas medis segera membawa Dani ke dalam rumah sakit diikuti Kapten Rida dan Luki. Aku masih duduk di mobil sambil menyemprotkan air minum untuk membersihkan darah dan tanah yang menempel di wajahku. Luka di tangan ku hasil dari cakaran werewolf itu pun segera ku bersihkan lalu aku perban. Aku ingin segera pulang dan mandi air hangat, pasti segar sekali.

Tak lama kemudian Kapten Rida dan Luki keluar dari rumah sakit dan segera naik ke mobil.

“Ayo ke markas! si Pak Tua telah menyuruhku untuk melapor.” kata Kapten Rida.

Jona pun segera menancap gas mobil dan kami pun pergi ke markas yang jaraknya hanya sekitar 200 meter dari rumah sakit.

Setibanya di markas, Kapten Rida segera pergi ke ruangan rapat untuk melapor ke Bos Alan. Sedangkan kami pergi ke ruang 8 tempat berkumpul para prajurit untuk bertemu teman-teman yang lain.

“Itu mereka!” teriak seseorang.

Kulihat Rian, Agus dan Salim sedang berkumpul di meja makan tempat teriakan itu berasal. Kami pun menghampiri mereka.

“Dari mana saja kalian? Aku kira kalian sudah mati.” tanya Agus.

“Kami pergi ke medis dulu, si Dani terluka parah!” jawab Jona.

“Seberapa parah?” tanya Rian.

“Yaa.. mungkin sekarang Dani harus belajar makan dengan tangan kirinya..” jawab Luki sambil meminta ruang kosong untuk duduk disamping Rian. Aku dan Jona pun ikut duduk bersama mereka.

“Pfft.. pemula..” cibir Rian.

“Jadi.. bagaimana anak baru yang lain di tim kalian?” tanyaku.

“Saat berhadapan dengan makhluk-makhluk itu, anak baru di timku, yang katanya penembak terbaik di angkatannya, hanya mampu menembak satu kali.. itu pun dia menembak ke arah ku..” kata Agus.

“Hahahahha..” kami pun tertawa mendengar cerita Agus.

“Bagaimana dengan anggota baru mu, Lim? Hey! Salim!” tanya Agus kepada Salim yang dari tadi hanya makan saja saat kami sedang mengobrol.

“Huh?” jawab Salim kebingungan karena tidak memperhatikan.

“Anggota baru mu! Dia perempuan kan? Apa dia baik-baik saja saat misi tadi?” tanya Agus lagi.

“Ya, dia baik-baik saja. Dia bahkan beberapa melindungi anggota timku dari serangan werewolf-werewolf itu. Menurutku, dia cukup tangguh untuk seorang perempuan.” jawab Salim.

“Apa dia cantik? Siapa namanya?” tanya Rian penasaran.

“Namanya Mia. Karena dia bukan tipeku.. menurutku sih biasa saja.” Jawab Salim.

“Iya sih.. tipe wanita idaman mu itu seperti werewolf, kan? Wanita bertubuh besar dan berbulu lebat.” ledek Agus. Kami pun tertawa mendengar ledekan Agus pada Salim.

“Sialan kalian!” Salim menggerutu.

“Yang mana sih orangnya? Aku penasaran!” tanya Rian.

Salim pun menolehkan kepalanya ke semua arah di ruangan untuk mencari Mia, tapi dia tidak menemukanya, karena banyak sekali prajurit di ruangan ini sekarang.

“Aku tidak tahu. Mungkin dia tidak ada di ruangan ini sekarang.” kata Salim.

“Ok ok, sekarang mari kita bicarakan kenapa para werewolf bisa sampai berkeliaran ke Situraja?” tanyaku untuk mengalihkan pembicaraan.

“Yang aku dengar tadi katanya pos penjaga di daerah sana diserang habis-habisan oleh mereka.” jawab Salim.

“Aku tahu itu, Lim! Itu kan alasan kenapa kita harus tugas ke sana tadi! Maksudku, kenapa mereka sampai berani menyerang pos di Situraja? Ini pertama kalinya setelah 5 tahun dibangun pos di sana.” kataku.

“Ya mungkin mereka sekarang lebih kuat. Mungkin mereka juga sama berlatih seperti kita. Mereka juga pasti terus mempelajari kekuatan kita.” sanggah Agus.

“Apa kalian punya kenalan yang bertugas di pos Situraja?” tanya Rian. Dan kami pun hanya menggelengkan kepala.

“Tim 1 dan 2 sampai sekarang belum pulang, katanya mereka sedang langsung berjaga di sana.” kata Agus.

“Serius?” tanya Salim yang terlihat kaget.

“Ini pasti masalah besar sekali sampai-sampai tim 1 dan 2 harus disimpan di sana.” tambah Salim.

“Selamat malam, teman-teman di ruang 8!” tiba-tiba terdengar seorang petugas berbicara dari speaker ruangan.

“Terima kasih untuk misi malam ini. Kalian boleh pulang sekarang.. Oh iya, panggilan untuk Luki Wirjawan dari tim 7, ada pesan untukmu.. pesannya adalah.. FUCK. YOU. Hahahahahah..”

“Sialan, itu pasti adik ku!” kata Luki sambil mengacungkan jari tengahnya ke arah CCTV di langit-langit ruangan. Aku dan Jona hanya tersenyum saja melihat kelakuannya.

“Adik mu juga sudah sembuh, Ki?” tanya ku.

Arian, adik Luki yang juga seorang prajurit di Tim 5. Dia juga mendapatkan cedera tulang kaki yang patah saat dimana aku juga mendapat cedera lutut ketika menjalankan sebuah misi 4 bulan yang lalu.

“Belum sih, kata dokter dia masih butuh waktu beberapa bulan lagi untuk bisa berjalan tanpa bantuan tongkat penyangga. Sekarang, dia jadi ditugaskan di bagian komunikasi. Tapi sepertinya dia tidak suka ditugaskan di sana.. kampret seperti Arian tidak akan tahan diam di depan komputer seharian.” cerita Luki.

“Terus, lutut mu bagaimana, Jim? Masih sakit ?”tanya Agus.

“Udah sembuh sih. Tapi staminaku jadi turun, tadi lari beberapa menit rasanya ingin mati saja..” jawab ku.

“Kau kan masih punya waktu satu bulan untuk istirahat. Kenapa terburu-buru untuk kembali bertugas ?” tanya Rian.

“Panggilan hati. Aku tak mau jika timku kenapa-napa. Dan mereka pasti sangat rindu padaku.” candaku sambil menoleh pada Jona dan Luki yang duduk di hadapan ku di seberang meja.

“Cih! Mendengarnya saja aku ingin muntah!” kata Jona sambil merebut roti yang sedang salim makan dan melemparkan roti itu ke arah ku. Aku pun mengelak dari lemparan Jona.

“Woy! Itu roti ku, kampret!” kata Salim sambil memukul kepala Jona.

“Aduh! Sakit, njing!!” kata Jona sambil membalas memukul kepala Salim.

“Hahahaha..” kami pun tertawa melihat kelakuan mereka berdua.

“Baiklah, sampai jumpa besok di tempat latihan, kawan-kawan! Aku pulang dulu.” kataku sambil berdiri dari kursi.

“Yow!” jawab Jona sambil mengacungkan jempolnya padaku.

Aku pun segera meninggalkan mereka dan keluar dari ruang 8. Di koridor menuju pintu keluar aku berpapasan dengan kapten Wirya dari tim 1 dan kapten Ari dari tim 2 yang sedang berlari dengan cepat ke arahku. Dua orang ini memang dua kapten terbaik dari kami miliki. Dan mereka adalah sahabat yang sangat dekat, bahkan lebih seperti kaka adik. Aku hanya mengangguk pada mereka dan mereka membalas dengan anggukan juga. Mungkin mereka juga baru datang untuk menghadap Bos Alan.. tunggu, bukannya tim mereka sedang berjaga di pos Situraja? Kenapa kapten mereka ada di markas?. Aku pun menoleh ke belakang untuk bertanya pada mereka tapi mereka sudah berlari terlihat buru-buru sekali.

Ketika melewati pintu keluar markas, udara dingin langsung terasa menusuk tengkuk ku. Kulihat jam di tanganku dan waktu menunjukan jam 02:14. Aku segera berjalan pergi meninggalkan markas untuk langsung ke rumah, karena rumahku dekat dengan gedung markas utama aku hanya perlu berjalan beberapa menit saja. Di perlajanan, aku terus memikirkan apa yang sebenarnya terjadi di pos Situraja. Apa para werewolf sekarang lebih hebat? Mungkin mereka juga berlatih seperti kita. Untung saja mereka benci dengan senjata. Kalau saja adat mereka memperbolehkan penggunaan senjata, mungkin mereka bisa mengalahkan kita dari dulu. Aku tak bisa membayangkan bagaimana para werewolf menggunakan senjata saat sedang berubah. Monster serigala setinggi dua meter memegang AK-47 pasti terlihat keren sekali. Tapi ya itu lah.. kita bangsa manusia pasti kewalahan memerangi mereka.

Tak terasa aku sudah berada di depan pintu rumah. Aku membuka kunci pintu rumah dan masuk dengan perlahan menutup pintu rumah. Aku tak mau sampai membangunkan… tiba-tiba lampu ruangan menyala dan ku lihat ibu berjalan ke arahku dengan tangan yang terbuka bersiap untuk memeluku.

“Tunggu, Bu. Badanku kotor sekali sekarang.” kata ku. Ibu berhenti sejenak di hadapanku aku lihat matanya berkaca-kaca dan kemudian memeluk ku tanpa memperdulikan kata-kataku.

“Kamu tidak apa-apa kan?” tanya ibu dengan khawatir.

“Hanya luka kecil saja di tanganku, Bu.” Ibu lalu melepaskan pelukannya dan mengangkat tangan kananku yang terluka karena cabikan werewolf tadi. Ibu memperhatikan tanganku, membuka perbannya dan melihat luka cabikan yang telah berhenti mengeluarkan darah, kemudian melepaskan tanganku.

“Lututmu tak apa-apa kan?” tanya Ibu. Aku hanya menggelengkan kepala.

“Cepat pergi mandi. Ibu ambil perban dan obat luka dulu.” perintah Ibu sambil pergi ke ruang tengah.

Aku pun segera pergi ke kamar mandi.

Sesampainya di kamar mandi aku langsung mandi dengan air hangat sambil membersihkan luka-luka ku dengan air yang lebih panas. Aku teringat dengan werewolf yang aku hadapi tadi. Mungkin dia sedang menderita sekarang karena matanya aku tusuk dengan pisau. Penglihatannya tajamnya akan hilang sebelah.

“Jim, ini baju. Nanti pergi ke ruang tengah ya untuk mengobati luka mu.” kata ibu dari balik pintu kamar mandi.

Aku buka pintu kemudian hanya menjulurkan tanganku keluar untuk meminta bajuku.

Selesai mandi aku langsung ke dapur untuk mencari makanan di lemari es. Ternyata hanya ada pisang yang bisa ku makan. Aku ambil 3 pisang dan pergi ke ruang tengah untuk mengobati luka ku. Aku lihat Ibu sedang duduk di sofa sudah bersiap dengan obat luka di tangan kanannya dan perban di pangkuannya. Aku segera duduk di samping Ibu kemudian menyimpan 2 buah pisang di pangkuanku, menguliti satu buah pisang kemudian menjulurkan tanganku yang luka sementara tangan kiri ku memegang pisang yang aku makan.

“Apa yang terjadi tadi?” tanya Ibu.

“Pos di Situraja diserang, Bu. Kami kesana untuk merebut lagi pos nya.” jawabku.

Aku memang suka bercerita semua hal yang terjadi kepada Ibu setiap kali aku pulang dari tugas. Sebenarnya kami prajurit dilarang menceritakan tentang tugas kami kepada siapa pun termasuk keluarga kami. Tapi aku percaya pada Ibu dan Ibu pun tak pernah menceritakannya kembali ke orang lain.

“Merebut? Berarti parah sekali ya serangannya? Bukannya pos di sana kuat sekali?” tanya Ibu khawatir.

“Ya, mungkin para werewolf juga berlatih bu. Jadi bisa sampai merebut pos sana.” jawabku.

“Terus apa teman-teman mu baik-baik saja?” tanyanya lagi sambil terus mengurus luka ku.

“Ada anak baru sih, namanya Dani. Lukanya parah, tangannya putus, sampe tangannya mesti dioperasi!” jawabku.

“Aduh kasihan ya. Masih untung kamu cuma luka gini. Emang ini tangan kamu kenapa sampe luka gini?” tanya Ibu.

“Tadi.. itu.. kena pagar besi gitu kegores pas lari.” jawabku.

Ibu berhenti memperban tanganku dan langsung memandang mataku. Aku tahu Ibu pasti tahu bahwa aku berbohong. Tapi Ibu tidak berkata apa-apa dan kembali memperban tanganku.

“Udah tidur sana.” kata Ibu.

“Makasih, Bu.” kataku sambil memeluk Ibu kemudian meninggalkan Ibu di ruang tamu dan langsung pergi ke kamarku.

Sesampainya di kamar, aku langsung melompat ke tempat tidur dan hanya selang beberapa menit rasa kantuk membuatku tertidur.